Tuesday, June 20, 2023

SUPRANATURAL SPIRITUAL STORY - PETAPAAN PANGERAN SURYANATA, KALSEL




Assalamualaikum...
Syalom...
Rahayu...

Diawali dengan sebuah pelayaran yang dilakukan oleh Mpu Jatmika dengan Siprabayaksa, dan ia merupakan seorang saudagar dari negara Keling yang sebelum pergi diwasiati oleh orang tuanya bahwa ia harus bersinggah di suatu wilayah yang berhawa panas dan akhirnya ia menyinggahi Amuntai karna dirasa sesuai dengan wasiat tadi.

Karena Mpu Jatmika menganggap dirinya hanya seorang pedagang bukan kesatria maka ia membangun sebuah tempat untuk tinggal yang sekarang dinamakan “ Candi Agung”. Dan untuk melambangkan dirinya sebagai raja maka ia membuat sebuah patung replika dirinya yang pembuatnya langsung didatangkan dari Cina.

Di ketahui Mpu Jatmika mempunyai dua orang Anak yaitu Mpu Mandastana dan Lembu Amangkurat ( Lambung Mangkurat ), dan kemudian Lambung Mangkurat dijadikan Patih pada saat itu. pada suatu saat Lambung Mangkurat berpikir bahwa tidak lengkap kalau kerajaan Dipa tidak mempunyai seorang raja.

Karena itu ia bertapa di daerah Ulu Banyu ( Nagara) selama 40 hari 40 malam dan pada malam terkhir pertapaannya sebuah petunjuk datang melalui sebuah suara yang mengatakan “ ia harus menyediakan 40 jenis makanan dan 40 jenis kue beserta iringan dayang-dayang” yang berpakaian serba kuning melambangkan kemewahan pada kerajaan Dipa pada saat itu, setelah itu Lambung Mangkurat kembali ke istana untuk menyediakan semuanya.

Setelah semua sesaji dan dayang-dayang sudah disiapkan di tempat ia bertapa dan ritual dilasanakan tdak lama kemudian muncul buih yang memunculkan seorang putri yang akhirnya dijadikan raja perempuan di kerajaan Dipa yan diberi nama Putri Junjung Buih. Mpu Mandastana yang merupakan saudara Lambung Mangkurat mempunyai dua orang anak yaitu Bambang Patmaraga dan Bambang Sukmaraga.
Mereka ternyata tertarik dengan putri Junjung Buih yang terkenal cantik Luar biasa yang keanggunannya tidak dapat ditandingi oleh siapapun. Karena merasa kedua putra Mpu Mandastana ini tidak sesuai untuk sang putri maka Lambung Mangkurat membunuh kedunya di sebuah danau sekitar kerajaan sehingga sekarang disebut “ lubuk Badangsanak atau danau berdarah” yang bisa kita lihat sampai sekarang di Candi Agung Amuntai.

Sebuah Wangsit yang mengatakan bahwa jodoh putri Junjung Buih berada di seberang lautan yaitu di kerajaan Majapahit. Maka diutuslah seorang pengawal ke Majapahit namun sesampainya disana Maha Raja Patih Majapahit mengatakan ia memiliki anak tapi tidak sempurna yang tidak mempunyai tangan dan kaki bernama Raden Putra, orang menyebutnya raja Bulat Bulaling.
Walaupun seperti itu seorang utusan tadi tetap meminta untuk putra Maha Raja Patih tetap di bawa karena ingin melaksanakan wangsit yang didapat. Sesampainya di Muara Banjar, Putri Junjung Buih mendapat kabar bahwa calon suaminya hampir tiba di tanah Banjar.

Tapi sang putri ingin mempunyai suami yang sakti dan gagah perkasa agar tidak kalah dengan kesaktiannya. Maka putri Junjung Buih mengutus Naga di Langit untuk menghalau air agar kapal mandek di tengah lautan. Para pengawal pun bingung apa yang harus dilakukan samapi akhirnya mereka bertanya kepada Pangeran Bulat Bulaling dan kemudian ia mengatakan bahwa lemparkan saja dirinya ke air.

Pertempuran hebat pun terjadi, naga tersebut pun tewas, dan tiba tiba Raden Putra yang sebelumnya tidak memiliki anggota tubuh lengkap, berganti muncul dengan anggota tubuh yang lengkap, menjadi Pangeran yang gagah perkasa yang disebut. Akhirnya Putri Junjung Buih mengakui kesaktian sang Pangeran dan bersedia untuk dijadikan istri

Prosesi pernikahan pun dilaksanakan,selesai prosesi pernikahan Lambung Mangkurat menobatkan Raden Putra dan putri Junjung Buih untuk menjadi Raja di Negara Dipa dengan gelar Pangeran Suryanata. dan dari hasil perikahan tersebut mereka mendapatkan 2 orang putra yang bernama Pangeran Suryaganggawangsa dan Raden Suryawangsa.
(https://www.redaksi8.com/)

Den Bagus Ramadhan
wa 082333700030

 

SUPRANATURAL SPIRITUAL STORY - CANDI AGUNG AMUNTAI, KALSEL

 



Assalamualaikum,,,

Syalom,,,

Rahayu,,,

Candi Agung yang terletak di kawasan Sungai Malang, Kecamatan Amuntai Tengah, Kota Amuntai, Kalimantan Selatan merupakan sebuah situs Candi Hindu yang beratap. Candi Agung di Amuntai ini diperkirakan peninggalan Kerajaan Negara Dipa yang dibangun oleh Empu Jatmika pada abad ke XIV Masehi. Menurut cerita, Kerajaan Hindu Negara Dipa didirikan pada tahun 1438 M. Cikal bakal Kerajaan Banjar itu diperintah oleh Maharaja Suryanata dan Putri Junjung Buih dengan kepala pemerintahan Patih Lambung Mangkurat.

Jika GanSis berada di dalam kompleks Candi Agung ini, GanSis tidak akan melihat bangunan candi seperti layaknya Candi Prambanan, Candi Mendut apalagi Candi Borobudur, karena memang bangunan candi ini hanya berupa bongkahan batu bata yang disusun setinggi kurang lebih 25 cm. Ukuran batu batanya pun tidak seperti umumnya karena memiliki struktur yang lebih berat dan lebih kuat. Beberapa bongkahan batu bata ini ditutup dengan penutup cungkup atap untuk melindunginya dari kerusakan.

Di dalam kompleks Candi Agung ini terdapat situs-situs bersejarah seperti Situs Candi Agung, Pertapaan Pangeran Suryanata, Telaga Berdarah, Tiang Mahligai Putri Junjung Buih, dan ada juga Museum yang menyimpan berbagai macam peninggalan dari Kerajaan Banjar dan artefak-artefak yang ditemukan di sekitar candi tersebut.

Di Candi Agung Amuntai ini banyak masyarakat yang datang untuk mencari berkah dengan melakukan ritual agar hajat dan keinginannya terkabul. Ritual ini terjadi karena adanya mitos-mitos yang berkembang di masyarakat. Di antara ritual-ritual yang ada di Candi Agung antara lain Mangilan Lidi.

Pertapaan Pangeran Suryanata yang ada di dalam kompleks Situs Candi Agung berupa pendopo yang tidak mempunyai dinding. Di dalamnya terdapat gundukan batu dan kembang. Setiap pengunjung yang ingin melakukan ritual ini dianjurkan untuk mengukur lidi sepanjang satu jengkal, kemudian ditancapkan di atas gundukan batu dan kembang tersebut sambil mengucapkan hajat dan keinginannya dalam hati. Setelah beberapa saat lidi tersebut diukur kembali, konon katanya jika lidi tersebut bertambah panjang maka hajat dan keinginannya akan terkabul.

Di situs Candi Agung juga terdapat kolam dan tempat pemandian yang diyakini bertuah. Pengunjung yang mandi di sana harus menyiapkan kembang (bunga rampai), air dari sumur Putri Junjung Buih, dan juga sesaji lain. Ritual mandi ini diyakini dapat membuka aura kecantikan/ketampanan seseorang dan juga dapat membuang aura negatif (kesialan).

Di dalam kompleks Candi Agung, tepatnya ke arah kiri dari pintu masuk,terdapat serumpun Bambu Kuning yang dianggap keramat. Bagi siapa yang menulis nama mereka dan juga nama pasangannya di ruas bambu tersebut, konon katanya dapat menyatukan hati kedua pasangan tersebut dan hubungan mereka akan langgeng

(https://www.kaskus.co.id/)

Den Bagus Ramadhan

wa 082333700030


SUPRANATURAL SPIRITUAL STORY - SITUS TELAGA DARAH AMUNTAI, KALSEL




Assalamualaikum,
Syalom,
Rahayu,

Pada suatu hari Lembu Mangkurat menghadap Putri Junjung Buih, dengan maksud menanyakan apakah dia tidak akan memilih suami. Dengan tegas Putri Junjung Buih itu menjawab: “bahwa dia hanya akan kawin dengan seorang laki-laki yang diperoleh dengan bertapa”. Jawaban ini menimbulkan kesukaran yang tidak mudah dipecahkan. Dengan agak malu Lembu Mangkurat memohon diri pulang.

Adapun Empu Mandastana berputra dua orang, yaitu Bangbang Sukmaraga dan Bangbang Patmaraga. Setiap hari, kedua anak muda itu bermain di sekitar mahligai Putri Junjung Buih. Banyak anak gadis yang jatuh cinta kepada kedua anak muda ini. Mereka menjalin pantun dan menggubah seloka untuk menyatakan kerinduan mereka.

Pada suatu hari Putri Junjung Buih melihat kedua anak muda itu, hingga diketahuinya kedua anak itu adalah putra-putra dari Empu Mandastana. Sekadar untuk memberi hadiah sebagai tanda kebahagiaan hatinya, Putri Junjung Buih memberi sekuntum bunga nagasari kepada mereka. Bunga nagasari pada waktu itu belum tumbuh di Negara Dipa. Tetapi malang, tepat pada saat itu paman mereka, Lembu Mangkurat lewat di sana.

Dengan gusar dan cemburu Lembu Mangkurat menanyakan apa yang mereka perbuat di sekitar istana itu. Kemudian ia melarang kedua putra kakaknya itu untuk datang bermain-main di dekat kediaman raja. Hal itu karena Lembu Mangkurat berpendapat, kalau nanti sampai Putri Junjung Buih ingin bersuamikan salah seorang dari kemenakannya, maka dia kelak sebagai paman akan menyembah anak kakaknya. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk menyingkirkan kedua anak muda itu.

Pada suatu hari dengan alasan bersama-sama akan pergi mencari ikan, ia mengajak kedua kemenakannya, yaitu Bangbang Sukmaraga dan Bangbang Patmaraga ke hulu sungai. Kedua anak itu menurut saja ajakan pamannya itu. Namun sebelum berangkat, mereka telah bermohon dan menyatakan selamat berpisah kepada ayah dan bunda mereka. Hal inilah yang kemudian menjadi pangkal kecurigaan.

Menjelang keberangkatan, Bangbang Sukmaraga menanam sebatang pohon kembang melati di sebelah kanan dari pintu rumah, sedangkan adiknya Bangbang Patmaraga menanam sebatang kembang merah di sebelah kiri, seraya berkata: “Jika daun-daun ini rontok berguguran, maka itulah tandanya kami berdua kakak beradik mati dibunuh oleh paman Lembu Mangkurat”!

Dengan berbaju putih, mereka pergi ke perahu, sedangkan Lembu Mangkurat telah datang terlebih dahulu menunggu mereka. Mereka bersama-sama berangkat dengan perahu ke hulu sungai hingga sampai di Batang Tabalong. Di sinilah kedua anak kakaknya tersebut dibunuh. Lembu Mangkurat menjadi keheran-heranan setelah mengetahui bahwa mayat Bangbang Sukmaraga dan Bangbang Patmaraga hilang lenyap seketika itu juga. Sampai sekarang tempat pembunuhan ini masih dikenal dengan nama Lubuk Badangsanak.

Empu Mandastana dan istrinya yang sedang dalam keadaan cemas dan khawatir menunggu kabar anaknya, tiba-tiba dikejutkan oleh datangnya sejoli burung merak. Yang jantan hinggap di pangkuan Empu Mandastana dan yang betina di pangkuan istrinya. Maklum akan tanda-tanda ini, berdebar-debarlah hati Empu Mandastana dan istrinya. Seolah-olah mereka tahu bahwa kedua putra mereka telah mati dibunuh. Dengan serempak mereka menengok pohon-pohon yang ditanam oleh putra-putranya. Ketika melihat pohon-pohon itu, berlinanganlah air mata mereka karena daun-daun pohon itu satu demi satu berguguran. Segera mereka mengambil keputusan untuk mengikuti nasib kedua putranya, yaitu Bangbang Sukmaraga dan Bangbang Patmaraga. Setibanya mereka kembali ke candi, Empu Mandastana menikam dirinya dengan sebuah keris Keling yang bernama Parung Sari dan istrinya dengan Lading Malela.

Beberapa hari kemudian barulah Lembu Mangkurat mengetahui kematian kakaknya. Ia menanyakan kepada semua pengiring di manakah mereka paling akhir melihatnya. Tetapi walaupun sudah diselidiki dengan saksama, orang-orang tidak juga menjumpai Empu Mandastana dan istrinya. Sambil menduga apa yang mungkin terjadi, Lembu Mangkurat pergi menuju Candi. Di sana dia menjumpai kedua sosok tubuh yang telah menjadi mayat, terbaring tenang laksana tidur, sedangkan keris dan lading untuk bunuh diri tergeletak di samping mereka masing-masing. Di sekelilingnya tampak banyak burung yang mati bergelimpangan karena terbang melangkahi kedua mayat keramat itu.

Lembu Mangkurat memerintahkan pengiring-pengiringnya untuk membuang kedua mayat itu serta tanah-tanah tempat mayat itu terbaring ke laut. Di tempat itu kemudian menjadi sebuah telaga yang sampai sekarang dinamakan Telaga Raha. Konon jika ada seorang yang dianggap bersalah dan dibunuh, maka kelihatan air Telaga Raha itu akan berwarna kemerah-merahan selama dua puluh empat jam. Demikian pula halnya dengan sungai yang berhulu dari gunung Batu Piring, yaitu gunung tempat mengambil batung batulis untuk membuat tiang mahligai Putri Junjung Buih. Sampai sekarang sungai ini masih terkenal dengan nama Telaga Darah.

Wallahua’lam
(https://sultanyusuf.wordpress.com/)

Den Bagus Ramadhan
wa 082333700030

 

SUPRANATURAL SPIRITUAL STORY - PAHAJATAN (KAMPUNG ORANG HALUS KALSEL)

 



Assalamualaikum,
Syalom,
Rahayu...

Di Desa Tungkap, Paringin Selatan, Balangan, Kalimantan Selatan, ada sebuah kampung kecil yang dipercaya menjadi kampung orang halus. Situs aneh itu bernama Pahajatan. Dipercaya menjadi kampung tempat hajat bisa dikabulkan.

“Semenjak direnovasi ini saya menolak beberapa tamu yang ingin meminta bimbingan spiritual. Kurang sopan memanggil ‘beliau’ di tengah tumpukan material,” ujarnya sambil menunjuk ke sudut ruangan dengan tasbih melilit di tangan kanan.

Ya, 'beliau' yang dimaksud adalah sosok gaib bertubuh besar gempal tanpa kepala yang biasa duduk di sudut ruangan itu. Awal pertemuan Asran dengan 'beliau' adalah saat dia melihat ada ular bermahkota yang melilit tiang rumah.

Asran yang menguasai ilmu bela diri pencak silat berusaha menghunuskan tombak ke arah ular tersebut, namun sia-sia. Makhluk itu seketika menghilang. “Malamnya, dalam alam antara mimpi dan sadar seorang sosok kakek berjubah putih hadir dan berbicara ke saya, ‘Cu, kenapa mau melukaiku? Kakek cuma mau bertamu’,” tutur Asran menirukan pembicaraan 'beliau'.

Orang-orang dari alam sebelah itu, kata Asran, tidak akan mengganggu manusia kecuali ada sebab. Belakangan, ada beberapa pengunjung Pahajatan yang datang tanpa permisi dan meninggalkan sampah. Tidak sedikit ‘dihantui’ oleh penampakan-penampakan.

“Tapi kalau mau nyoba uji nyali di sini (Pahajatan) silakan, nanti saya bantu arahkan,” tantang Asran. Kontan, penulis menolak tawaran itu.

Dulu, kata dia, pernah ada yang mencoba ingin mengetahui keangkeran Pahajatan. Ada tiga orang. Asran hanya memberi mereka waktu 30 menit. Namun para penantang dengan sombong menjamin bisa bertahan lebih dari itu.

Penantang pertama, keluar dari lokasi sebelum genap lima menit. Kedua, sedikit lebih tangguh tapi tak lebih dari 15 menit. Terakhir yang ketiga hampir mencapai menit ke-30 sebelum lari terbirit-birit.
“Badan saya seperti ada yang menarik-narik ke atas,” ujar Asran menirukan perkataan penantang paling akhir keluar. Sehari sesudahnya, salah satu dari mereka menelepon Asran, dan menyatakan bahwa ketiganya sedang demam.

Kejadian aneh juga pernah dirasakan warga yang melintasi Pahajatan saat tengah malam. Salah satunya Madi, 40. Dia mengaku saat sampai rumah kehilangan tas dalam bagasi mobil yang seharusnya terkunci rapat.

ia tak menemukan apa pun saat menyisir kembali jalan yang dilintasi pulang, termasuk di kawasan Pahajatan. “Tapi saat saya kembali menyisir jalan itu paginya, tas itu ada di depan gerbang Pahajatan,” ceritanya sambil memegang belakang leher. Ternyata, cerita mistis tentang Pahajatan sebanyak intensitas kunjungan para pencari hajat ke sana.

Di dalam Pahajatan terdapat rumah-rumah kecil berderet dengan rapi laksana miniatur sebuah perkampungan. Beragam jenis replika rumah adat ada di Pahajatan, dari desain rumah khas Kalsel, Kalteng, hingga Joglo. Beragam jenis miniatur rumah itu lantaran yang datang pun dari berbagai daerah.

Bentuk rumah sendiri terserah kepada yang membangunnya. Berdasarkan tulisan yang ada pada setiap rumah, bangunan tertua yang masih kokoh berdiri hingga sekarang didirikan pada 1940-an atau sekitar 70 tahun silam.

Meskipun rumah itu terlihat halus (Kecil, Red) di alam nyata, namun Asran percaya, di 'alam sebelah' ukurannya seperti rumah pada umumnya. "Percaya boleh, tidak percaya juga boleh tetapi jangan dihina penghuni orang di sini," tuturnya.
(https://www.jawapos.com/)


Den Bagus Ramadhan

wa 082333700030